02 Agustus

Korona dan Peradaban Agung Kita

Korona dan Peradaban Agung Kita

Korona dan Peradaban Agung Kita
Oleh; Basir mustofa

 
Suatu peradaban yang terlalu banyak mengalami syok, hipertensi, trauma, kecamuk dendam dan perang, serta penyumbatan-penyumbatan koroner akibat ketimpangan, akumulasi kekayaan, ketidakadilan, dan penghisapan, seperti peradaban Modern dan sesudahnya sekarang, pada gilirannya mau tak mau akan mengalami inersia, pelambatan gerak, sebelum lumpuh dan barangkali “mati” dalam caranya sendiri. Jika tak mati sungguhan, mati suri. Tiba pada suatu “state of inactivity” yang tidak terelakkan.

Kota-kota sepi, transportasi lumpuh, hotel-hotel kosong, keramaian menyusut, perdagangan amblas. Antiklimaks sosialitas. Saat itu manusia kembali ke singularitasnya, ke kesendiriannya, ke ruang intimnya yang terlupakan oleh ritme modernitas dan janji-janji kemajuan.

Mekkah kembali ke citra arkaik. Sunyi bak ribuan tahun lalu ketika kesunyian serupa menyergap tiga manusia agung (Ibrahim, Ismail, Hajar ‘alaihimussalam) di padang tandus yang kering dan tak berpenghuni. Kelak pun, seperti nubuat Nabi dalam sebuah hadits, kota Madinah mengalami hal yang sama. Ditinggal penghuninya, kecuali beberapa gelintir kaum mukmin.

Musibah bagi manusia, rahmat bagi alam. Bersamaan itu, paradoksnya, alam makin bersih, polusi menyusut drastis: manusia seperti dipaksa untuk melihat lagi kehidupan tidak melulu dari sudut pandang kepentingan biologisnya, tapi juga kehidupan yang lebih luas: alam yang tak lagi kuat menanggung keserakahan. Distopia bagi manusia, utopia bagi non-manusia.

* Sebuah anekdot: “corona” (korona) muncul di era “Qoruuna”, era ketika banyak kaum pengikut Qorun hari ini. Para penimbun kekayaan. Para pemodal besar. Para oligarkh dunia. Di sisi lain, permainan asosiasi kata QA-RA-NA dari nama virus ini menggemakan kisah legendaris tentang panglima Dzul Qarnain (“Sang Pemilik Dua Tanduk”) yang menaklukkan Ya’juj dan Ma’juj.

Manusia yang tak insyaf akan wabah ini barangkali akan kembali diingatkan dengan mala yang lebih dahsyat dan lebih tak terduga. Mereka yang insyaf akan menemukan keseimbangan dalam pemulihan relasi mereka dengan alam, dan dengan Sang Khalik, sang Pemilik alam.

Sejak 1960-an, para filsuf sudah memperingatkan, modernitas kita punya batas, limit. Tak bisa manusia semau-mau gue bertindak di atas bumi. Tak bisa ritme peradaban dibiarkan bergerak semata-mata atas gerak sirkulasi kapital yang membabi buta. Ada imperatif moral atas Yang Lain, The Other. Saya cuma tak menyangka: Yang Lain itu berupa sesuatu yang kecil tapi banyak. Sebuah virus yang kita sebut, mungkin bukan tanpa ironi dan rasa takzim, sebagai “corona”: sang mahkota. Suatu pesan kosmik bagi rezim apapun: kekuatan itu ada pada yang kecil-kecil dan banyak. Pada rakyat yang dihina dan diremehkan. Multitude, kata Antonio Negri. People, kata filsuf yang satu. “Kejamakan (multiplisitas) radikal”, kata filsuf yang lain.

Pesan yang sebenarnya telah dikirimkan Sang Khalik sepanjang ribuan tahun tentang bangsa-bangsa pendurhaka yang dimusnahkan oleh serbuan belalang, kutu, dan sejenisnya, atau tentara Abrahah oleh burung-burung kecil Ababil.

Kemajemukan adalah bentuk wujud Bangsa yang Merdeka

Kemajemukan adalah bentuk wujud Bangsa yang Merdeka

 Kemajemukan adalah bentuk wujud Bangsa yang Merdeka


pada sebuah lembaga umum di Ngawi terdapat 4 orang yang bersahabat. Mereka berasal dari keturunan dan agama yang berbeda – beda pertama yaitu Ahmad dia keturunan jawa dia beragama Islam, kedua yaitu jack dia keturunan batak dia beragama Kristen, ketiga yaitu Risky dia keturunan bali dan agamanya Hindu dan keempat yaitu Liang dia keturunan China agamanya Konghucu. Suatu ketika mereka pernah melakukan diskusi tentang apa saja yang di ajarkan di agama mereka masing – masing, Ahmad mengemukakan “di ajaran islam adalah yang wajib utamanya adalah beribadah solat 5 waktu selain itu ada juga badah wajib yaitu berpuasa serta ibadah – ibadah lainnya”, kemudian Jack bertanya kepada Ahmad “lalu apa kaitan islam dengan terorisme?”, dengan tegas Ahmad menjawab “Islam adalah agama yang lemah lembut dan tidak mengajarkan ajaran terorisme”, lalu liang ikut bertanya “lalu mereka itu siapa dan mngapa mereka mengatasnamakan jihad dalam serangannya”. Kembali dengan tegas Ahmad menjawab “mereka hanya sekelompok orang yang ingin menjatuhkan islam dan mereka tidak tau apa – apa soal islam”. “Oh jadi begitu berarti perkiraan kami selama ini salah” jawab Risky dan jack serta Liang  pun mengiyakan. Setelah itu Bergantian Liang, Risky dan jack menjelaskan apa saja yang diajarkan di agama mereka dan ternyata mereka pun menarik kesimpulan bahwa sebenarnya setiap agama itu mengajarkan banyak hal baik dan yang paling penting adalah agama mengajarkan untuk saling menegakan toleransi dalam beragama. Liang berkata “iya benar itu saya sangat menghormati agama lain karena selama ini ketika di hari hari besar agamaku banyak dari agama lain turut mengucapkan selamat”. Riaky menambahkan “betul itu aku juga sama di Bali ketika umat hindu melaksanakan nyepi agama lain pun turut menghormati salah satu contohnya agama islam ketika adzan di mushola atau masjid saja mereka tidak menggunakan pengeras suara”. Jason pun memberi pendapat “setiap acara besar agama ku juga kami merasa dihormati oleh agama lain nya mereka membuat spanduk spanduk bertuliskan selamat”. Ahmad berkata “iya itulah kawan yang dinamakan toleransi antar agama dan itu juga adalah salah satu perwujudan dari semboyan negara kita”. “Betul itu mad” ujar Risky. Kemudian disambung dengan Liang “negara kita kaya memang terdiri dari berbagai macam suku, keturunan dan agama namun itu semua bisa hidup berdampingan dengan baik”. Sambung lagi dengan Risky “Benar sekalii ituu oleh karena itu ayo kita saling mngingatkan kepada teman teman kita yang lain agar saling menjaga toleransi dan saling menghargai”. Setelah mereka berdiskusi mereka jadi tau apa itu arti dari Bhineka Tunggal Ika yang sebenarnya dan mereka pun makin kompak, akur dan harmonis tanpa adanya persilihan atau saling membeda – bedakan dari keturunan mana mereka berasal, dari suku mana mereka berasal dan agama apa yang dianutnya bukan menjadi sebuah pembatas bagi mereka untuk saling bersama sama bersatu membangun Indonesia yang lebih baik lagi.


Pemuda Berkarakter Menuju Kesuksesan Bangsa

Pemuda Berkarakter Menuju Kesuksesan Bangsa

 Pemuda Berkarakter Menuju Kesuksesan Bangsa


Mengenyam bangku sekolah di era modern ini bukan lagi  pemandangan yang mewah, melainkan sebuah kewajiban. Pemerintah pun mencantumkan nawacita wajib belajar 12 tahun sebagai salah satu yang terus diupayakan bangsa ini melalui program Indonesia Pintar. Saat ini, berpendidikan tinggi telah menjadi keharusan untuk diraih masyarakat, melihat  kebutuhan pada  lapangan pekerjaan yang masih berpatokan pada gelar ijazah terakhir.


    Tapi tak perlu cemas lagi, kini ada banyak jalan bagi siapapun yang ingin menimba ilmu. Asalkan mempunyai niat kuat dan mau berusaha. Seperti yang kita ketahui berbagai tawaran beasiswa bertebaran mencari muda-mudi yang tak hanya pintar ataupun  berprestasi tapi juga diperuntukkan bagi mereka yang kekurangan dari segi perekonomian.Di satu sisi  lembaga kursus serta bimbingan belajar tak kalah maraknya. Terlebih fasilitas pendukung pembelajaran berbasis IT  lengkap dengan internetnya semakin menambah kemudahan dalam mengeksplor  wawasan.


    Di Indonesia sudah banyak kisah nyata tentang motivasi pada dunia pendidikan. Kiprah para pemuda pemilik semangat juang tinggi hingga menjadi sosok yang dikenal karena keberhasilannya. Mulai dari cerita anak tukang becak yang lulus cumlaude, remaja menjuarai kompetisi tingkat internasional, hingga baru-baru ini ini hadirlah sosok cantik, Risa Santoso,  rektor termuda Indonesia di kota Malang yang merupakan lulusan Harvard. Tak berhenti di situ, bahkan masih hangat diperbincangkan Presiden Joko Widodo resmi mengangkat 7 generasi milenial menjadi staf khusus kepresidenan. Beberapa contoh di atas menunjukkan citra yang sangat membanggakan dari jerih payah pendidikan para pemuda Indonesia. Selain  mencerdaskan kehidupan bangsa, pendidikan  juga dinilai mampu menyokong taraf hidup seseorang menjadi lebih baik. Yang tentu saja beriringan dengan tekad, kerja keras, dan doa.


     Tapi apakah dengan menjadi orang yang berpendidikan tinggi, lantas kita benar-benar menjadi pribadi yang terdidik? Yang mampu dijadikan teladan bangsa? Dalam hal ini terkait kualitas perilaku yang bahkan tidak bisa dinilai dalam rapot. Meliputi budi pekerti, karakter, dan sopan santun.Sebab bagaimanapun pintar saja tidak cukup . Jika kita berkaca pada realita di negeri ini, sebagian dari masyarakat kita masih ada yang merasakan wajah-wajah kelam yang menyelimuti dunia  pendidikan. Beberapa kasus bahkan menyeret pelajar dan pendidik. Di antaranya terkait pemukulan pelajar terhadap seorang guru, pelajar dan mahasiswa yang diringkus polisi karena terlibat dalam pengedaran narkoba, kasus pelecehan seksual antar remaja, seorang pemuda yang tega menendang ibunya, kasus pencurian dan penipuan oleh pemuda, fenomena bullying di sekolah dan lebih menghebohkan,beberapa waktu lalu terjadi pengeboman di Polres Medan oleh seorang pemuda berusia 24 tahun. Mirisnya lagi problematika pelik serupa yang menyangkut para pemuda ini hampir setiap hari beredar di media dalam kolom  berita kriminal. Peristiwa –peristiwa miris ini sepatutnya dilawan oleh para pemuda melalui praktik pendidikan yang semestinya.


    Pada dasarnya, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya ilmu pengetahuan  serta kuantitas nilai hasil penugasan di bidang akademik. Namun sebaliknya melalui pendidikan, secara profesional akan  melahirkan generasi bangsa yang berkualitas dari segi sumber daya manusianya. Sebagaimana tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam  Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan  Nasional Bab II Pasal 3, sebagai berikut :


     “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”


    Dengan demikian,maka perlu diselaraskan antara pendidikan kognisi akademik dengan pembentukan karakter. Pendidikan karakter sering dimaknai sebagai pendidikan nilai, budi pekerti, moral, dan  watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan seseorang dalam menilai dan memberikan keputusan baik atau buruk terhadap sesuatu.  Sani dan Kadri (2016), menjelaskan  tindakan yang perlu ditanamkan dalam membentuk karakter adalah penerapan atribut-atribut karakter, di antaranya sebagai berikut :


Aspek ini akan membentuk karakter seseorang yang bertanggung jawab dalam melakukan aktivitas secara sungguh-sungguh.

Kebiasaan Membantu Orang Lain. Peningkatan Emotional Quotient (EQ) yang dilandasi kasih sayang kepada sesama manusia perlu dilakukan sejak dini melalui gotong royong dan saling toleransi.Hal ini untuk mengantisipasi perpecahan ataupun konflik masyarakat.

Membangun Kecerdasan. Kegemaran membaca perlu ditanamkan sejak dini untuk membentuk keingintahuan (curiousity) dan kemandirian dalam belajar

Melatih Kejujuran. Merupakan bagian dari Spiritual Quotient (SQ) yang identik dengan sifat amanah, yakni berani mengungkapkan dan bertindak sesuai kebenaran yang ada dengan dilandasi atas kecintaan dan ketakwaannya kepada Allah.

Pembiasaan diri menjadi pribadi yang bertanggung jawab secara spontan akan mampu membentuk sikap adil dan sportif dalam menghadapi berbagai permasalahan .


      Ralph Waldo Emerson, cendekiawan Harvard University menerangkan bahwa dengan terbentuknya karakter yang baik, seseorang akan memiliki kecerdasan emosi dan mampu menghadapi segala macam tantangan yang ada di depannya. Sebab stabilitas kehidupan  kita  tergantung karakter kita.  Lalu siapa saja mereka  yang memiliki karakter baik? Cirinya, mereka tahu hal yang baik (knowing the good), menginginkan hal baik (desiring the good), dan melakukan hal baik (doing the good).


    Sementara itu, Saptono (2011) berpendapat bahwa pentingnya sebuah karakter bahkan tertuang dalam syair lagu Indonesia Raya. Tepatnya pada lirik “bangunlah jiwanya”, barulah kemudian “bangunlah badannya”. Menurutnya, kutipan tersebut memberikan pesan sebuah perintah kepada masyarakat untuk mengutamakan dalam membangun jiwanya terlebih dahulu baru membangun hal-hal fisik semata demi mewujudkan Indonesia berjaya.


     Pada era milenial ini, pembentukan karakter sejak dini  sangatlah penting melihat pergeseran nilai-nilai sosial dan etika pemuda Indonesia saat ini telah  mencapai taraf yang mengkhawatirkan . Pengaruh globalisasi dan terpaan media yang begitu kuat menjadikan masyarakat mudah tersulut provokasi dan mudah sekali bertindak anarkis. Hal ini bisa kita lihat dari maraknya tayangan-tayangan tidak mendidik seperti sinetron dan reality show yang mengumbar sisi pergaulan bebas dan daya  emosional. Di sisi lain dari segi gadget seringkali bertebaran hoax di media sosial yang memicu pertengkaran antar masyarakat. Menghadapi persoalan seperti ini,  rasanya tidak cukup jika hanya lulus dengan predikat terbaik di sekolahnya. Tetapi lebih kepada pemuda yang berbekal  pendidikan karakter yang kuat baik dari segi intelektualitas maupun perilaku.


       Generasi muda merupakan aset berharga bagi suatu bangsa untuk mewujudkan cita-cita pembangunan nasional. Dalam  Undang-Undang No 40 Tahun 2009, tentang Kepemudaan,pasal 17 dikemukakan terdapat beberapa Peran Pemuda, di antaranya :


Sebagai Kekuatan Moral. Hal ini dapat diwujudkan dengan cara menumbuhkan aspek etik dan moralitas dalam bertindak, memperkuat iman dan takwa serta ketahanan mental spiritual, dan meningkatkan kesadaran hukum

Sebagai Kontrol Sosial. Hal ini dapat diwujudkan dengan memperkuat wawasan kebangsaan, membangkitkan kesadaran atas hak dan kewajiban warga negara, dan membangkitkan sikap kritis terhadap lingkungan.

Sebagai Agen Perubahan. Yang dapat diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan politik, demokratisasi, sumber daya ekonomi, kepedulian terhadap masyarakat,ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga, seni, dan budaya, kepedulian terhadap lingkungan hidup,pendidikan kewirausahaan, serta kepemimpinan pemuda.

      Sebagai penerus masa depan, generasi muda dituntut mampu menjunjung martabat bangsa Indonesia dan siap sedia dalam menghadapi persaingan global di kancah Internasional.


     Adapun kiat khusus yang diberikan oleh Bapak Teknologi indonesia, yakni BJ Habibie, kepada para pemuda untuk menjadi garda terdepan pembangunan bangsa. Beliau mengibaratkan nya ke seperti dua sayap pesawat terbang , “ Sayap kanan adalah iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian sayap kiri adalah pembangunan ilmu dan teknologi. Keduanya harus ada, tidak bisa salah satu saja.”   Dengan demikian dapat kita pastikan  betapa  pentingnya pendidikan dan penguatan nilai-nilai moral terhadap pemuda.


     Mulyasana (2015), menyebutkan  bahwa tanpa adanya pendidikan, manusia sulit melakukan proses penyesuaian diri dengan tuntutan dan segala perubahan baru. Tanpa pendidikan, manusia semakin sulit mengembangkan potensi karir masa depannya .


Kesimpulan


      Pemuda adalah tumpuan kesuksesan bangsa. Baik atau buruknya suatu negara ditentukan oleh  kualitas sumber daya manusianya. Salah satu cara untuk mewujudkannya, yaitu melalui Pendidikan. Penerapan  pendidikan menyeluruh sangat diperlukan bagi generasi masa depan. Pendidikan sejatinya tidak hanya mengutamakan kecerdasan intelektualitas, melainkan juga penanaman nilai-nilai moral serta pembentukan karakter sejak dini. Dengan adanya karakter yang kuat dan kokoh para pemuda akan menjadi pemimpin  tangguh,berilmu,dan berakhlak mulia .


     Di sisi lain yang perlu kita pahami, para pelaku krisis moral di negeri ini, bukan disebabkan oleh orang-orang yang tidak berpendidikan, melainkan karena mental yang dimiliki mereka sangat lemah. Hal ini sudah seharusnya diwaspadai sekaligus menjadi pembelajaran bersama baik bagi pemerintah atau pun seluruh masyarakat untuk membenahi praktik pendidikan sebagaimana tujuan pendidikan nasional yakni mencerdaskan kehidupan serta membentuk watak peradaban bangsa yang bermartabat.