Pemuda Berkarakter Menuju Kesuksesan Bangsa
Mengenyam bangku sekolah di era modern ini bukan lagi pemandangan yang mewah, melainkan sebuah kewajiban. Pemerintah pun mencantumkan nawacita wajib belajar 12 tahun sebagai salah satu yang terus diupayakan bangsa ini melalui program Indonesia Pintar. Saat ini, berpendidikan tinggi telah menjadi keharusan untuk diraih masyarakat, melihat kebutuhan pada lapangan pekerjaan yang masih berpatokan pada gelar ijazah terakhir.
Tapi tak perlu cemas lagi, kini ada banyak jalan bagi siapapun yang ingin menimba ilmu. Asalkan mempunyai niat kuat dan mau berusaha. Seperti yang kita ketahui berbagai tawaran beasiswa bertebaran mencari muda-mudi yang tak hanya pintar ataupun berprestasi tapi juga diperuntukkan bagi mereka yang kekurangan dari segi perekonomian.Di satu sisi lembaga kursus serta bimbingan belajar tak kalah maraknya. Terlebih fasilitas pendukung pembelajaran berbasis IT lengkap dengan internetnya semakin menambah kemudahan dalam mengeksplor wawasan.
Di Indonesia sudah banyak kisah nyata tentang motivasi pada dunia pendidikan. Kiprah para pemuda pemilik semangat juang tinggi hingga menjadi sosok yang dikenal karena keberhasilannya. Mulai dari cerita anak tukang becak yang lulus cumlaude, remaja menjuarai kompetisi tingkat internasional, hingga baru-baru ini ini hadirlah sosok cantik, Risa Santoso, rektor termuda Indonesia di kota Malang yang merupakan lulusan Harvard. Tak berhenti di situ, bahkan masih hangat diperbincangkan Presiden Joko Widodo resmi mengangkat 7 generasi milenial menjadi staf khusus kepresidenan. Beberapa contoh di atas menunjukkan citra yang sangat membanggakan dari jerih payah pendidikan para pemuda Indonesia. Selain mencerdaskan kehidupan bangsa, pendidikan juga dinilai mampu menyokong taraf hidup seseorang menjadi lebih baik. Yang tentu saja beriringan dengan tekad, kerja keras, dan doa.
Tapi apakah dengan menjadi orang yang berpendidikan tinggi, lantas kita benar-benar menjadi pribadi yang terdidik? Yang mampu dijadikan teladan bangsa? Dalam hal ini terkait kualitas perilaku yang bahkan tidak bisa dinilai dalam rapot. Meliputi budi pekerti, karakter, dan sopan santun.Sebab bagaimanapun pintar saja tidak cukup . Jika kita berkaca pada realita di negeri ini, sebagian dari masyarakat kita masih ada yang merasakan wajah-wajah kelam yang menyelimuti dunia pendidikan. Beberapa kasus bahkan menyeret pelajar dan pendidik. Di antaranya terkait pemukulan pelajar terhadap seorang guru, pelajar dan mahasiswa yang diringkus polisi karena terlibat dalam pengedaran narkoba, kasus pelecehan seksual antar remaja, seorang pemuda yang tega menendang ibunya, kasus pencurian dan penipuan oleh pemuda, fenomena bullying di sekolah dan lebih menghebohkan,beberapa waktu lalu terjadi pengeboman di Polres Medan oleh seorang pemuda berusia 24 tahun. Mirisnya lagi problematika pelik serupa yang menyangkut para pemuda ini hampir setiap hari beredar di media dalam kolom berita kriminal. Peristiwa –peristiwa miris ini sepatutnya dilawan oleh para pemuda melalui praktik pendidikan yang semestinya.
Pada dasarnya, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan bertambahnya ilmu pengetahuan serta kuantitas nilai hasil penugasan di bidang akademik. Namun sebaliknya melalui pendidikan, secara profesional akan melahirkan generasi bangsa yang berkualitas dari segi sumber daya manusianya. Sebagaimana tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3, sebagai berikut :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
Dengan demikian,maka perlu diselaraskan antara pendidikan kognisi akademik dengan pembentukan karakter. Pendidikan karakter sering dimaknai sebagai pendidikan nilai, budi pekerti, moral, dan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan seseorang dalam menilai dan memberikan keputusan baik atau buruk terhadap sesuatu. Sani dan Kadri (2016), menjelaskan tindakan yang perlu ditanamkan dalam membentuk karakter adalah penerapan atribut-atribut karakter, di antaranya sebagai berikut :
Aspek ini akan membentuk karakter seseorang yang bertanggung jawab dalam melakukan aktivitas secara sungguh-sungguh.
Kebiasaan Membantu Orang Lain. Peningkatan Emotional Quotient (EQ) yang dilandasi kasih sayang kepada sesama manusia perlu dilakukan sejak dini melalui gotong royong dan saling toleransi.Hal ini untuk mengantisipasi perpecahan ataupun konflik masyarakat.
Membangun Kecerdasan. Kegemaran membaca perlu ditanamkan sejak dini untuk membentuk keingintahuan (curiousity) dan kemandirian dalam belajar
Melatih Kejujuran. Merupakan bagian dari Spiritual Quotient (SQ) yang identik dengan sifat amanah, yakni berani mengungkapkan dan bertindak sesuai kebenaran yang ada dengan dilandasi atas kecintaan dan ketakwaannya kepada Allah.
Pembiasaan diri menjadi pribadi yang bertanggung jawab secara spontan akan mampu membentuk sikap adil dan sportif dalam menghadapi berbagai permasalahan .
Ralph Waldo Emerson, cendekiawan Harvard University menerangkan bahwa dengan terbentuknya karakter yang baik, seseorang akan memiliki kecerdasan emosi dan mampu menghadapi segala macam tantangan yang ada di depannya. Sebab stabilitas kehidupan kita tergantung karakter kita. Lalu siapa saja mereka yang memiliki karakter baik? Cirinya, mereka tahu hal yang baik (knowing the good), menginginkan hal baik (desiring the good), dan melakukan hal baik (doing the good).
Sementara itu, Saptono (2011) berpendapat bahwa pentingnya sebuah karakter bahkan tertuang dalam syair lagu Indonesia Raya. Tepatnya pada lirik “bangunlah jiwanya”, barulah kemudian “bangunlah badannya”. Menurutnya, kutipan tersebut memberikan pesan sebuah perintah kepada masyarakat untuk mengutamakan dalam membangun jiwanya terlebih dahulu baru membangun hal-hal fisik semata demi mewujudkan Indonesia berjaya.
Pada era milenial ini, pembentukan karakter sejak dini sangatlah penting melihat pergeseran nilai-nilai sosial dan etika pemuda Indonesia saat ini telah mencapai taraf yang mengkhawatirkan . Pengaruh globalisasi dan terpaan media yang begitu kuat menjadikan masyarakat mudah tersulut provokasi dan mudah sekali bertindak anarkis. Hal ini bisa kita lihat dari maraknya tayangan-tayangan tidak mendidik seperti sinetron dan reality show yang mengumbar sisi pergaulan bebas dan daya emosional. Di sisi lain dari segi gadget seringkali bertebaran hoax di media sosial yang memicu pertengkaran antar masyarakat. Menghadapi persoalan seperti ini, rasanya tidak cukup jika hanya lulus dengan predikat terbaik di sekolahnya. Tetapi lebih kepada pemuda yang berbekal pendidikan karakter yang kuat baik dari segi intelektualitas maupun perilaku.
Generasi muda merupakan aset berharga bagi suatu bangsa untuk mewujudkan cita-cita pembangunan nasional. Dalam Undang-Undang No 40 Tahun 2009, tentang Kepemudaan,pasal 17 dikemukakan terdapat beberapa Peran Pemuda, di antaranya :
Sebagai Kekuatan Moral. Hal ini dapat diwujudkan dengan cara menumbuhkan aspek etik dan moralitas dalam bertindak, memperkuat iman dan takwa serta ketahanan mental spiritual, dan meningkatkan kesadaran hukum
Sebagai Kontrol Sosial. Hal ini dapat diwujudkan dengan memperkuat wawasan kebangsaan, membangkitkan kesadaran atas hak dan kewajiban warga negara, dan membangkitkan sikap kritis terhadap lingkungan.
Sebagai Agen Perubahan. Yang dapat diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan politik, demokratisasi, sumber daya ekonomi, kepedulian terhadap masyarakat,ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga, seni, dan budaya, kepedulian terhadap lingkungan hidup,pendidikan kewirausahaan, serta kepemimpinan pemuda.
Sebagai penerus masa depan, generasi muda dituntut mampu menjunjung martabat bangsa Indonesia dan siap sedia dalam menghadapi persaingan global di kancah Internasional.
Adapun kiat khusus yang diberikan oleh Bapak Teknologi indonesia, yakni BJ Habibie, kepada para pemuda untuk menjadi garda terdepan pembangunan bangsa. Beliau mengibaratkan nya ke seperti dua sayap pesawat terbang , “ Sayap kanan adalah iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian sayap kiri adalah pembangunan ilmu dan teknologi. Keduanya harus ada, tidak bisa salah satu saja.” Dengan demikian dapat kita pastikan betapa pentingnya pendidikan dan penguatan nilai-nilai moral terhadap pemuda.
Mulyasana (2015), menyebutkan bahwa tanpa adanya pendidikan, manusia sulit melakukan proses penyesuaian diri dengan tuntutan dan segala perubahan baru. Tanpa pendidikan, manusia semakin sulit mengembangkan potensi karir masa depannya .
Kesimpulan
Pemuda adalah tumpuan kesuksesan bangsa. Baik atau buruknya suatu negara ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Salah satu cara untuk mewujudkannya, yaitu melalui Pendidikan. Penerapan pendidikan menyeluruh sangat diperlukan bagi generasi masa depan. Pendidikan sejatinya tidak hanya mengutamakan kecerdasan intelektualitas, melainkan juga penanaman nilai-nilai moral serta pembentukan karakter sejak dini. Dengan adanya karakter yang kuat dan kokoh para pemuda akan menjadi pemimpin tangguh,berilmu,dan berakhlak mulia .
Di sisi lain yang perlu kita pahami, para pelaku krisis moral di negeri ini, bukan disebabkan oleh orang-orang yang tidak berpendidikan, melainkan karena mental yang dimiliki mereka sangat lemah. Hal ini sudah seharusnya diwaspadai sekaligus menjadi pembelajaran bersama baik bagi pemerintah atau pun seluruh masyarakat untuk membenahi praktik pendidikan sebagaimana tujuan pendidikan nasional yakni mencerdaskan kehidupan serta membentuk watak peradaban bangsa yang bermartabat.