23 September

Untaian kata Sahabat Rayon Ketonggo

Untaian kata Sahabat Rayon Ketonggo

 setiap manusia pasti dibekali kelebihan dan kekurangan tersendiri.

dalam pergantian waktu kita pasti pernah merasakan bahwa hati kita butuh pelampiasan untuk menumpahkan isi, makna, bahkan rasa yang tak cukup jika hanya dengan ucapan saja, maka dari sini terciptalah suatu karya tulis yang bersyair indah dan meluluhkan hati dan jiwa, penenang raga, mensupport dan memotivasi kehidupan agar kita senantiasa bahagia dalam menjalani hari-hari penuh semangat dan perjuangan yang tak biasa. maka tumpahkanlah semua dengan kata-kata cantik yang terlukis indah dalam hati kita. berpuisilah dan jadikanlah menjadi karya.

berikut beberapa karya dari sahabat kami.


DIKALA HATI RINDU

Oleh : Thoha Kartika

Kala senja mengintai jiwa
Mentari redup dingin suasana 
Eratkan hati pelukan cinta 
Hangatkan rasa tuluskan bergema 
Merajut kalbu kala sujudku 
Menerpa kasih lantunan yang merdu 
Terpikat bidadari pudarkan semu
Menggapai mimpi insan kan bertemu
 Jiwa seraya senyumku bahagia 
Bertemu denganmu wanita pujangga 
Bertekuk lutut hati tak kuasa 
Tahan rindu duniaku fana
Sejengkal rasa ku simpan dalam 
Tertutup rapat agar tak dendam 
Menanti hadirmu sajak yang kelam 
Tergores waktu gemuruh hati tak kunjung padam 
Dimana kamu ?
Kembalilah, aku rindu ! 
Lihat aku yang menantimu 
Tangisku, takkan bertamu 
Nantikan kabar yang telah kembali 
Datangkan sikecil dengan pasti 
Hadapkan langit terbuai imajinasi 
Menatap pasti namamu tinta illahi
Rayuan semu kian menggebu 
Hentikan waktu goresan salju 
Bersama doa lembut ku mengadu 
Betapa syukur ku dimiliki mu 


SEUTAS DOA DI SEPERTIGA MALAM

Oleh : Thoha Kartika

Tulus, tak lagi aku mendengarnya
Cinta, tak lagi aku merasakannya
Rindu, apa itu sejenis rayuan belaka ?
Tatkala tulus tak lagi dipercaya 
Cinta datang tak lagi berdaya 
Sejenak terbayang rindu ini untuk siapa ? 
Datang tak bertulang, pergi tak terbayang 
Anganku tlah hilang 
Harapanku sia-sia kubuang
Seraya doa kupanjat dimalam tiba 
Tangis air mata tak lagi terasa
Hadirkan cinta dibalik lembar cerita 
memohon ridho kelak bersama 
dalam dekap sajadah dan doa 
tatkala hati sadar kasihnya 
Tetes juang tercipta untuknya 
Titah tajuk tertulis indah namanya 
Sembah sujud namamu dalam doa
Selayang pandang berliku kata 
Secarik kertas tergores tinta 
Lantunan merdu jiwa seraya
Memanggil namamu indah terlaksana



itulah beberapa karya yang telah diciptakan oleh sahabat kami, semoga menginspirasi ya !

terima kasih.


(editor : thoha kartika ) 

Sekolah Jurnalistik II Rayon Ketonggo




Pandansari | Pena Ketonggo - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Ketonggo Komisariat Modern Ngawi, Sukses melaksanakan Kelas Jurnalistik  kedua, bertempat di Markas Besar PMII Rayon Ketonggo, Rabu (21/09/21 pukul 23:45 WIB).

Berdasarkan keterangan yang kami terima ini dalam sambutanya  Kholil Abdullah menyampaikan "Semoga dengan adanya Kelas Jurnalistik ini Sahabat-Sahabati mampu mengamati, memahami dan mengulas berita secara baik dan benar," ungkap Kholil Abdullah selaku Ketua Rayon Ketonggo Ngawi.

"Kelas Jurnalistik ini dihadiri oleh 9 anggota Rayon Ketonggo namun tidak menjadi penghalang kita untuk belajar terus dan senantiasa berproses dengan sungguh-sungguh. tidak ada keterbatasan untuk kita belajar, selama masih ada kesempatan maka jangan pernah sia-siakan." imbuhnya.

Kegiatan itu diakhiri dengan makan nasi goreng bersama dengan porsi besar, guna menjaga kekuatan dan stabilitas imun tubuh dimasa pandemi ini.


(Editor : Thoha Kartika)

02 Agustus

Korona dan Peradaban Agung Kita

Korona dan Peradaban Agung Kita

Korona dan Peradaban Agung Kita
Oleh; Basir mustofa

 
Suatu peradaban yang terlalu banyak mengalami syok, hipertensi, trauma, kecamuk dendam dan perang, serta penyumbatan-penyumbatan koroner akibat ketimpangan, akumulasi kekayaan, ketidakadilan, dan penghisapan, seperti peradaban Modern dan sesudahnya sekarang, pada gilirannya mau tak mau akan mengalami inersia, pelambatan gerak, sebelum lumpuh dan barangkali “mati” dalam caranya sendiri. Jika tak mati sungguhan, mati suri. Tiba pada suatu “state of inactivity” yang tidak terelakkan.

Kota-kota sepi, transportasi lumpuh, hotel-hotel kosong, keramaian menyusut, perdagangan amblas. Antiklimaks sosialitas. Saat itu manusia kembali ke singularitasnya, ke kesendiriannya, ke ruang intimnya yang terlupakan oleh ritme modernitas dan janji-janji kemajuan.

Mekkah kembali ke citra arkaik. Sunyi bak ribuan tahun lalu ketika kesunyian serupa menyergap tiga manusia agung (Ibrahim, Ismail, Hajar ‘alaihimussalam) di padang tandus yang kering dan tak berpenghuni. Kelak pun, seperti nubuat Nabi dalam sebuah hadits, kota Madinah mengalami hal yang sama. Ditinggal penghuninya, kecuali beberapa gelintir kaum mukmin.

Musibah bagi manusia, rahmat bagi alam. Bersamaan itu, paradoksnya, alam makin bersih, polusi menyusut drastis: manusia seperti dipaksa untuk melihat lagi kehidupan tidak melulu dari sudut pandang kepentingan biologisnya, tapi juga kehidupan yang lebih luas: alam yang tak lagi kuat menanggung keserakahan. Distopia bagi manusia, utopia bagi non-manusia.

* Sebuah anekdot: “corona” (korona) muncul di era “Qoruuna”, era ketika banyak kaum pengikut Qorun hari ini. Para penimbun kekayaan. Para pemodal besar. Para oligarkh dunia. Di sisi lain, permainan asosiasi kata QA-RA-NA dari nama virus ini menggemakan kisah legendaris tentang panglima Dzul Qarnain (“Sang Pemilik Dua Tanduk”) yang menaklukkan Ya’juj dan Ma’juj.

Manusia yang tak insyaf akan wabah ini barangkali akan kembali diingatkan dengan mala yang lebih dahsyat dan lebih tak terduga. Mereka yang insyaf akan menemukan keseimbangan dalam pemulihan relasi mereka dengan alam, dan dengan Sang Khalik, sang Pemilik alam.

Sejak 1960-an, para filsuf sudah memperingatkan, modernitas kita punya batas, limit. Tak bisa manusia semau-mau gue bertindak di atas bumi. Tak bisa ritme peradaban dibiarkan bergerak semata-mata atas gerak sirkulasi kapital yang membabi buta. Ada imperatif moral atas Yang Lain, The Other. Saya cuma tak menyangka: Yang Lain itu berupa sesuatu yang kecil tapi banyak. Sebuah virus yang kita sebut, mungkin bukan tanpa ironi dan rasa takzim, sebagai “corona”: sang mahkota. Suatu pesan kosmik bagi rezim apapun: kekuatan itu ada pada yang kecil-kecil dan banyak. Pada rakyat yang dihina dan diremehkan. Multitude, kata Antonio Negri. People, kata filsuf yang satu. “Kejamakan (multiplisitas) radikal”, kata filsuf yang lain.

Pesan yang sebenarnya telah dikirimkan Sang Khalik sepanjang ribuan tahun tentang bangsa-bangsa pendurhaka yang dimusnahkan oleh serbuan belalang, kutu, dan sejenisnya, atau tentara Abrahah oleh burung-burung kecil Ababil.